NOL KOMA ; Sekarat ! "Kembali Ke Awal"
Eksperimentasi Gerak Berjudul NOL
KOMA dari Sanggar Tari Rano Bungi
( Talu A-RT ke 3 di Desa Kabobona
Dolo Sigi )
26-10-2014 Talu A-RT 3 yang sempat tertunda itupun dapat
berjalan dengan baik. Masyarakat sekitar tempat terjadinya pementasan tersebut
menerima bahkan sangat antusias. Talu Art dibuat diruang terbuka jauh dari
kesan berat gedung- gedung pementasan. Dibawakan dengan santai, menyatu dengan
alam, keserasian dengan manusia, dan budaya yang memang dasarnya merupakan
harmonisasi warna kehidupan. Dimana alam, manusia , dan budaya yang memang
hidup berdampingan.
Pementasan tersebut bukan hanya melibatkan para seniman
Sulawesi Tengah, namun juga mengajak bibit- bibit muda generasi penerus
kebudayaan Indonesia. Anak- anak seusia sekolah dasar diajak bersama main dalam
pertunjukan pentas. Hal ini menunjukkan sisi Talu A-RT dimana kita seharusnya menanam
karya dan melawan manja.
Cinta akan budaya negara kita sendiri merupakan suatu hal
yang mahal. Semangat anak- anak tersebut patut diacungi jempol. Keseriusan
mereka dalam menekuni proses dari berkesenian itu sendiri. Mereka diajak untuk
setidaknya satu dari beberapa anak- anak tersebut tertanam didalam diri mereka
bahwa luar biasanya kesenian daerahnya sehingga timbullah keinginan untuk
mempelajari dan masuk dalam kesenian itu.
Proses
yang mereka jalani sungguh tidaklah mudah
mengingat diusia mereka yang masih kanak- kanak yang begitu aktif namun
mereka mampu serius menekuninya. Sama halnya dengan anak- anak tadi, sang
komposer yang membimbing anak- anak tersebutpun terbilang cukup kewalahan,
dimana dia dengan sabar menangani anak- anak tadi yang memang cenderung lebih
suka bermain- main dan sulit mendengarkan, namun dengan sabar dan berkat usaha
tak kenal lelah ia berhasil menarik keseriuasan para seniman cilik tadi muncul
menjadi sebuah penampilan malam itu. Sebuah proses yang panjang dan melelahkan
tak mereka ingat lagi kala sudah menampilkan pertunjukan mereka, bahkan
beberapa dari mereka malah ingin lagi melakukan proses itu. Proses dari berkesenian. Ini merupakan semangat yang langka dan jarang
ditemukan pada generasi bangsa saat ini, generasi yang bukan hanya mengenal
tapi juga memahami dan menjaga serta mempertahankan kesenian daerahnya.
Membahas
mengenai Talu A-RT ke 3 ini dimana tentang eksperimentasi gerak “ NOL KOMA”
menggambarkan nol bukan hanya sebagai nilai, nol bukan hanya merupakan symbol
tapi nol merupakan lingkaran kehidupan. Dikatakan “ Nol koma” dimana nol adalah
lingkaran kehidupan manusia dan koma disini adalah wujud dimana bentuk keadaan
situasi dunia saat ini yang sekarat. Sekarat moral, sekarat yang disebabkan
hilangnya jati diri bangsa, malas yang menggerogoti karakter diri, sekarat
dengan hitam putih kehidupan yang tak dapat dibedakan lagi dan semakin mencekik.
Bumi telah tercemar, manusia semakin tak peduli, dan budaya kita yang dijadikan
senjata pelindung akan hilang. Namun ini belum mati hanya saja begitu
menderitanya ketika manusia, alam, dan budaya yang hidup harmonis tadi dijajah
oleh zaman tanpa ada yang dapat kita lakukan. Maka dari itu diangkatlah menjadi
sebuah pertunjukan yang memadukan gerak, musik dan alam.
Disamping
itu gelora semangat dan kebersamaan dirasakan oleh pihak- pihak yang bekerja
sama membangun pertunjukan NOL KOMA ini sungguh luar biasa, temasuk juga
masyarakatnya. Bahkan bagi komposernya sendiri menganggap bahwa yang sangat
penting dari Talu A- RT ke 3 ini bukan sekedar ajang pentas seninya, tetapi
adalah dimana pentingnya menanamkan wujud cinta terhadap budaya daerahnya sejak
usia dini.
Setelah
pementasan para seniman dari kota Palu dan Kabupaten Sigi sendiri melakukan
diskusi. Membuka lebar ruang duduk untuk membahas tentang pertunjukan itu
sendiri maupun diluar dari itu yang lebih penting adalah wujud satu kesatuan
para pekerja seni Sulawesi tengah yang tetap mempertahankan budaya yang
merupakan bagian kebudayaan Indonesia.
Penulis :
Badriah (Mahasiswi FKIP Jurusan Bahasa dan Seni, 2012)
Komunitas Seni Lobo, 2014
Comments
Post a Comment
Tabe !