MAITAMO RAEGO ; Potapahi Tana, Ritual yang Hampir Terlupa
![]() |
| Penyembelihan Kerbau pada Upacara Adat POTAPAHI TANA di Desa Boladangko, Kec. Kulawi, Kab. Sigi, 2012 |
Proses ini ditandai dengan penyembelihan bengga (kerbau) dipinggir sungai kemudian kepala bengga beserta darah segarnya dialiri ke sungai sebagai bentuk untuk membuang kesialan atau musibah yang telah melanda Kulawi beberapa tahun. Bengga tersebut diletakan pada homba avo (rakit dari bambu) yang telah di gane (dimanterai). Setelah itu, ditabuhlah gima (gendang) sebagai tanda bahwa segala keburukan akan pergi bersama kepala kerbau yang telah dihanyutkan tadi dan tujuh lelaki melakukan neaju (tarian penjemputan orang dari perang) dengan memagang toko (tombak) pada tangan kiri, diserta teriakan, hentakan dan gerakan melompat mundur hingga tamu didepan gerbang menuju ke Lobo. Disinilah Raego kemudian berperan mulai dari gima selesai di pukul hingga para tamu-tamu memasuki lobo.
Gerakannya diimulai dari kaki kiri yang dangkat mundur kebelakang kemudian diikuti oleh kaki kanan secara bergantian sampai pangapihi (pendamping novama - permpuan pemimpin nyanyian raego) berteriak “naaa….ado hiole…ona..onara” maka seluruh penari laki-laki ikut menyanyi setelah empat mengulang gerak kemudian bergerak menekuk lutut, lelaki meghentakkan kakinya di tanah sebanyak 3 kali. Posisi tangan penari perempuan berada diatas perut, sementara penari laki-laki sebelah kanan berada diatas pundak penari perempuan (merangkul) dengan telapak tangan lurus sejajar dan lurus terbuka yang disebut olo’, tangan kiri memegang guma (parang adat). Para penari berpakaian lengkap dengan menggunakan mbesa serta higa, dan halili mereka menari dari pagi sampi matahari tepat berada di atas kepala.
![]() |
| Gubernur Sulteng beserta istri menjadi salah satu tamu pada Upacara Adat POTAPAHI TANA di desa Boladangko, duduk di depan Lobo |
---Iin Ainar Lawide---


Comments
Post a Comment
Tabe !