Melihat Indonesia Kini dalam Pertunjukan Teater “INSPEKTUR JENDRAL”
Indonesia saat ini menjadi salah satu negara yang menjadi pembicaraan di ruang-ruang terbuka di belahan dunia ini. Melalui berbagai macam problematika yang terjadi, baik politiknya, kehidupan sosial budayanya, kasus-kasus hukum yang tak berhenti mengalir di semua media, dan masih banyak problem-problem menarik lainnya. Hidup di Indonesia seolah menjanjikan sebuah cerita yang panjang, baik atau buruknya itu adalah pilihan dari si pelaku ceritanya sendiri. Karena pada dasarnya para pelaku-pelaku tersebut telah memainkan peran mereka dengan sangat sempurna.
Dalam administrasi kependudukan dan kemiliteran kita mengenal leveling sebuah jabatan yang memiliki golongan terbilang tinggi dengan tugas pokok dan fungsinya sebagai pemeriksa untuk kemudian melaporkan perihal “pasang surut” beberapa badan di bidangnya. Jabatan ini pada umumnya dikenal dengan inspektur jenderal. Inspektur jenderal digunakan oleh beberapa Negara besar di Dunia, diantaranya Perancis, Amerika, Jerman, Inggris serta beberapa Negara-negara yang dulunya tergabung dalam Rusia. Di Negara kita tercinta ini juga memiliki gelar jabatan yang sama , Inspektur jenderal mengepalai sebuah unsur pengawas pada kementrian dan kemudian unsur tersebut diberi tajuk “inspektorat jenderal” dimana secara garis besar berfungsi sebagai pengawas kementrian yang menangani urusan pemerintahan yang nomenklatur kementeriannya atau ruang lingkupnya disebutkan dalam UUD 1945. Maka jelaslah bahwa inspektorat jenderal hendaknya menyelenggarakan fungsi pengawasan dan pemeriksaan atas pelaksanaan kegiatan administrasi umum, keuangan, dan kinerja untuk nantinya dilakukan evaluasi terhadap etos kerja pada jajaran kementrian di Republik ini.
Apa yang diharapkan dari sebuah pertunjukan teater saat ini? Bahwa teater memiliki sasaran bagi masyarakat luas sebagai bagian dari sebuah pertunjukan teater dan remaja ataupun pelajar yang dapat memberikan pemikiran baru kepada mereka tentang bentuk-bentuk kesenian serius, utamanya sebagai kritik sosial kepada pemerintah.
Indonesia kini adalah serupa panggung teater yang memerankan beragam tokoh-tokoh menarik didalamnya, antagonis maupun protagonis. Tokoh-tokoh inilah yang bisa jadi panutan namun bisa juga menjadi sasaran cibiran dari orang-orang. Ibarat sebuah pertunjukan, Indonesia menjadi gedungnya dan orang-orang berpengaruh serta memiliki perananan didalamnya adalah para aktor panggungnya.
Teater salah satu jenis kesenian yang cukup tua dan cepat berkembang ke segala lapisan masyarakat, karena dianggap mampu menceritakan atau membawakan sebuah kisah diatas panggung, yang secara tidak sadar kisah itu bisa saja terjadi dalam kehidupan kita, termasuk Indonesia saat ini. Teater juga memberikan nilai pendidikan bagi kalangan muda, cara kita mengkritik kerja atau memprotes ketidakadilan yang terjadi bisa melalui panggung teater. Sindiran-sindiran yang penuh makna, cerita berisi curahan kepedihan berada di republik ini seolah menjadi ide teater baru dalam panggung pertunjukan tanah air.Dalam administrasi kependudukan dan kemiliteran kita mengenal leveling sebuah jabatan yang memiliki golongan terbilang tinggi dengan tugas pokok dan fungsinya sebagai pemeriksa untuk kemudian melaporkan perihal “pasang surut” beberapa badan di bidangnya. Jabatan ini pada umumnya dikenal dengan inspektur jenderal. Inspektur jenderal digunakan oleh beberapa Negara besar di Dunia, diantaranya Perancis, Amerika, Jerman, Inggris serta beberapa Negara-negara yang dulunya tergabung dalam Rusia. Di Negara kita tercinta ini juga memiliki gelar jabatan yang sama , Inspektur jenderal mengepalai sebuah unsur pengawas pada kementrian dan kemudian unsur tersebut diberi tajuk “inspektorat jenderal” dimana secara garis besar berfungsi sebagai pengawas kementrian yang menangani urusan pemerintahan yang nomenklatur kementeriannya atau ruang lingkupnya disebutkan dalam UUD 1945. Maka jelaslah bahwa inspektorat jenderal hendaknya menyelenggarakan fungsi pengawasan dan pemeriksaan atas pelaksanaan kegiatan administrasi umum, keuangan, dan kinerja untuk nantinya dilakukan evaluasi terhadap etos kerja pada jajaran kementrian di Republik ini.
Di tahun 1836 seorang sastrawan rusia berkebangsaan ukraina Nicolai Valisevich Gogol (kekaisaran Rusia, Sorochyntsi 01 april 1809 – Moscow 4 maret 1852.The great an artist ) menulis sebuah drama satire yang berjudul “Inspektur Jenderal”. Dalam dramanya ini,Gogol mendeskripsikan dengan begitu gamblang borok-borok moral para pejabat-pejabat tinggi sebuah wilayah yang kemudian mempengaruhi mereka dalam mekanisme pengambilan keputusan atas sebuah problem individu maupun publik,bahkan kerusakan cara berpikir para pemangku kepentingan ini mampu mengacaukan hal – hal terkecil sekaligus sensitif bagi sosok pemimpin ; Disiplin dan wibawa ! tentu kita semua sudah sangat mampu membayangkan bagaimana dampak bagi negara jika seorang pejabat nomor satu beserta jajarannya dalam sebuah wilayah Negara tersebut mengalami krisis disiplin dan pembawa’an. Suasana yang ditawarkan inspektur jenderalnya Gogol terasa begitu dekat dengan morat-maritnya Republik kita. Drama ini, menyajikan bentuk-bentuk kegelisahan serta keinginan kaum elit yang jauh dari landasan kepentingan masyarakatnya, malah munculnya segala jenis kesibukan tersebut berangkat dari kekhawatiran akan nasib pribadi mereka. Boleh jadi pada dua abad yang lalu Gogol menuliskan drama ini dengan tidak terlepas dari pengaruh-pengaruh latar belakang kehidupan sosial, politik,budaya serta kaitannya terhadap kesadaran sejarah yang bergulir di zaman Tsar nya orang-orang Rusia dan tentu bersifat jauh lebih global. ( Tsar adalah gelar Kekaisaran Pertama dan Kedua Bulgaria sejak tahun 913 dan untuk merujuk kepada pemimpin-pemimpin Rusia pada dulu kala sejak 1547 hingga 1917. wikipedia), namun di kemudian hari kepekaannya ini dengan tidak sengaja telah membidik atmosfer politik serta dinamika kekuasaan pada negara-negara “coba terus berkembang” termasuk Indonesia yang semakin pasti mengalami kehilangan spirit dalam menjaga komitmen terhadap sistem politik yang telah di cetuskan guna menjalankan kehidupan yang mengutamakan prinsip keadilan sosial bagi seluruh rakyatnya.
Kini terbukti bahwa berlandaskan kepekaan tersebut Nicolai V.Gogol mampu menemukan sebuah strategi pembacaan yang lihai dan cerdas serta dengan bijak menempatkan kesenian sebagai bagian dari pembentukan kultur pada masyarakat.Alhasil,kita orang Indonesia pun seolah merasa diwakili kegundahannya akan masa depan cerah sebuah negara oleh seseorang yang moyangnya mengaku secara kultural sebagai keturunan polandia.
Kini terbukti bahwa berlandaskan kepekaan tersebut Nicolai V.Gogol mampu menemukan sebuah strategi pembacaan yang lihai dan cerdas serta dengan bijak menempatkan kesenian sebagai bagian dari pembentukan kultur pada masyarakat.Alhasil,kita orang Indonesia pun seolah merasa diwakili kegundahannya akan masa depan cerah sebuah negara oleh seseorang yang moyangnya mengaku secara kultural sebagai keturunan polandia.
Nah, ketika kita menyepakati bahwa Republik hakikinya adalah gagasan untuk mengaplikasikan kesetaraan,persamaan di dalam kemajemukan Nusantara,maka sesungguhnya bangsa ini telah gagal besar dalam menjalankan misi tersebut. Mengapa ? apa tolak ukurnya ? mudah saja, karena kita ternyata masih merasakan bahwa keadaan Rusia di 2 abad silam yang dideskripsikan Gogol lewat “Inspektur Jenderal” merupakan perwakilan yang tepat bagi perasaan ketika kita menatap wajah pertiwi ini. Begitu jelas bagaimana pendidikan politik publik hanya sebatas retorika, dan program program yang mendukungnya tidak ada yang mengena esensinya,justru para pejabat publik selalu saja memaksakan pandangan pribadinya terhadap persoalan-persoalan publik, maka jadilah Republik ini sebagai lahan instalasi politik tekhnis dengan dalih bahwa keguna’an republik adalah mengapresiasi “permohonan-permohonan” yang sekuler.
Barangkali merupakan sebuah tindakan arif jika para elit ini juga memasukkan kegiatan “nonton pertunjukkan” per tri wulan guna meng update dirinya menjadi pemimpin harapan bangsa atau minimal menambah jumlah “cermin pribadi” agar semakin kaya jualah cara memandang sebuah wilayah yang tengah dipimpinnya saat ini. (dari tulisan Izat Gunawan)
Sementara itu ada situasi umum yang menarik dari sebuah pertunjukan teater, bahwa pendekatan tetaer sebagai kritik sosial kepada pemerintah dan ide teater dalam ruang pertunjukan. Masalah yang timbul saat ini adalah bagaimana mengubah paradigma berpikir masyarakat tentang teater menjadi suatu tontonan yang menarik, masih sedikitnya minat masyarakat untuk menjadikan teater sebagai suatu bentuk pendidikan, dan juga kiritikan mendalam.
Melalui Komunitas Seni Lobo, target yang diharapkan dalam sebuah pertunjukan teater bukan hanya pada lakon Inspektur Jenderal ini, bahwa mendekatkan teater kembali ke masyarakat menjadi prioritas utama, memberikan sebuah pertunjukan teater yang dapat memberikan gambaran Indoseia di saat ini, mengarsipkan ruang-ruang pertunjukan dengan ide garapan baru, menjadikan teater sebagai suatu tontonan wajib kepada khalayak (masyarakat umum), yang dianggap sebagai media pembelajaran bermuatan pendidikan.
Baca Juga tentang Inspektur Jenderal: 1. Mohammad Gunawan 2. Ichsanul Amal







Comments
Post a Comment
Tabe !