Refleksi 2013 ; Membangun dari Titik Nol
Mengawali 2014, ada banyak yang harus dipahami kembali baik itu sifatnya kedalam maupun keluar. tahun 2013 kemarin merupakan sebuah moment yang “membangun” untuk Komunitas Seni Lobo. Membangun disini berarti luas, membangun pilar baru, membangun kerjasama baru, membangun jaringan baru, membangun ide berpikir baru, membangun manajemen baru, membangun…membangun…membangunkan diri sendiri yang sempat tertidur dengan keadaan-keadaan modernism. Komunitas Seni Lobo, dibentuk berdasarkan sebuah komitmen bersama, menjadikan “kesenian” bukan hanya semata sebuah jualan dan tontonan saja, tapi ada ilmu dan sarat pendidikan. karena itulah, sepanjang 2013 kemarin hampir keseluruhan karya-karya Komunitas Seni Lobo bermuatan pendidikan.
Konsekuensi memasuki 2014 ialah meneruskan kata “membangun” tadi itu, yahhhh berarti merawat. Ibarat rumah, setelah ia dibangun, sesudah ia dirawat dan dipelihara, kemudian dijaga sebaik mungkin agar dapat diwariskan. Beginilah cara Komunitas Seni Lobo membangun komitmen berkesenian. Masih banyak rencana-rencana tertunda di 2013 kemarin, namun tidak sedikit pula prestasi yang mengejutkan kami peroleh. Diawal tahun 2013 kemaren, seorang kawan yang juga memiliki sumbangsih terhadap pemberian nama LOBO pada komunitas ini yaitu Izat Gunawan memberikan wacana berpikir baru pada kami, bagaimana ia mengelola sebuah event di kawasan Desa namun berskala Internasional dengan tertatih-tatih,,tapi hasilnya?? Waowwww……untuk akhirnya bisa perform di event tersebut menjadi sebuah kebanggaan besar bagi kami. Di event inilah kami berpikir bahwa kami butuh ruangan baru dalam berkarya yang akan menjadi patokan baru di wilayah kami sendiri. MEMOAR LEKATU karya yang kami bawakan pada event bertajuk FESTIVAL BUNYI BUNGI tersebut, mengangkat sebuah memori masa kecil hilang dibawa konflik. Monolog-Tari yang kami hadirkan ternyata sesudahnya, membawa kami kepada banyak apresiasi masyarakat baik itu pujian, kritikan bahkan pertanyaan dan hingga akhirnya menjadi sebuah trade mark bagi kami.
Sebulan sesudahnya, Komunitas Seni Lobo terpilih sebagai satu dari empat tim yang mewakili Sulawesi Tengah pada Festival Monolog Tingkat Nasional di Jember, Jawa Timur. Petualangan panggung bermula dari sini, dibantu dan digawangi orang-orang yang berpengalaman dibidangnya, LOBO maju dengan harapan bahwa pertunjukan menjadi sebuah embrio baru bagi panggung Monolog khususnya dikalangan Aktor-aktor muda (baca: kampus). PRODO IMITATIO pilihan naskah yang muatan pendidikannya sangat kental, menyentil beberapa kawanan orang yang memanfaatkan gelar palsu demi kepentingan pribadi/golongan. JUARA I akhirnya kami dapatkan dan kesempatan untuk bisa pentas keliling di beberapa kota di Jawa Timur kami lakukan walaupun dengan kantong pas-pasan dan nyaris tak bisa kembali ke kampung halaman 
Sebulan kemudian, menuju World Dance Day kami berpikir untuk memberi suasana baru pada panggung tari di Sulawesi Tengah khususnya. Telah lama panggung tari kita kosong dengan hadirnya satu sosok penari yang penguatan karya pada tubuhnya. Tari tunggal (Solo Dance) sebuah jawaban dari eksistensi seorang penari tersebut. Ia menari sendiri, secara tunggal berbahasa melalui tubuhnya menyampaikan sebuah pesan kepada khalayak. TAU NISASA sebuah peristiwa magis dalam upacara kematian Suku Kaili diangkat dalam balutan kontemporer tanpa meninggalkan rythem dan pola tradisi. Solo pun akhirnya memberi kami ruang dan memberikan apresiatif yang luar biasa dengan lahirnya kembali sebuah Tari Tunggal dari Sulawesi Tengah. Di pertengahan tahun, kembali berkolaborasi Tari – Puisi, mengecam keinginan dan hasrat pemerintah saat ini yang hanya memikirkan isi perut sendiri. PIRINGKU TAK SAMA sebuah karya yang tak biasa lagi kami pikirkan dengan ide dan konsep yang sebenarnya masih setengah matang, namun respon beberapa kawan mampu menangkap pesan yang kami sampaikan melalui pertunjukan tersebut. Sempat tertunda untuk mementaskan karya tersebut kembali, namun rencana itu telah masuk pada program di tahun ini.
Berbicara soal karya dari Komunitas Seni Lobo, memanglah belum seberapa namun pemilihan ide, konsep serta gagasan dan ruang itu yang kami utamakan. Membuka jaringan pendidikan melalui Sekolah Terbuka kepada pelajar-pelajar yang ingin belajar seni lebih mendalam silahkan datang pada kami…..beda dari sekolah lain, kami bersifat gratis! Ilmu dan pengalaman yang kami dapatkan, dibagi gratis kepada pelajar-pelajar tersebut dan semoga ada manfaatnya. 2013, menjadi langkah baru bagi kami berproses. dan 2014 akan menjadi proses bagi kami menacapkan kembali energi kesenian yang hampir hilang. Semoga dengan kerjasama dan penguatan manajemen baru, kami bisa tetap berproses dan semangat menunjukan kepada “LUAR” bahwa KAMI ADA DAN KAMI BISA !
Comments
Post a Comment
Tabe !