Pemantauan Fafa Utami tentang Pementasan Tari “Lhoo..!!”
Proses Kreatif Sebuah Penciptaan Tari
Batasan sebuah karya tari saat sekarang sudah tidak bisa lagi terkotak-kotak pada satu garapan gerak saja. Bentuk, garap dan konsep bisa berangkat dari hal apapun. Pengertian sebuah ‘tari’ juga nampaknya sudah sedemikian komplek. Berbagai pendekatan bisa dilakukan untuk mewadahi dan merealisasikannya. Tidak seperti lima belasan sampai dua puluh tahun kebelakang lalu ; bagaimana seorang koreografer dituntut membuat karya dengan tema-tema kesetiaan, percintaan, kemanusiaan, dan tema-tema dengan aturan dan nilai-nilai yang luhur. Saat sekarang seorang koreografer sangat dengan bebas mencipta karyanya tanpa harus dengan kaidah-kaidah dalam penciptaan, termasuk persoalan tema atau wacana yang akan diketengahkan. Sehingga apa yang dikerjakan oleh Danardono koreografi tari yang berjudul “Lhoo …” ini mengupas bagaimana tertawa bisa membuat orang sehat dan menjembataninya menjadi sebuah karya tari.
Lewat karya Lhoo …! Yang didanai oleh Yayasan Kelola atas Hibah Seni Yayasan Kelola pada pertengahan bulan lalu di Taman Budaya Jawa Tengah di Surakarta (12 dan 13 Oktober 2013) Danardono mengetengahkan sebuah karya koreografi yang benar-benar beda. Menggunakan pendekatan akademik, bagaimana kegiatan belajar di sekolah dan aktifitas di kelas diracik secara apik lengkap dengan dua puluh lima murid-murid SD yang mendukungnya.
Danar membagi karyanya dalam 3 bagian yang berbeda-beda, yang pertama adalah sebuah garapan diberi judul Twins, yang ditarikan dua penari nampaknya menekakan pada kolaborasi dan eklporasi gerak dua penari dengan, saling respon, sebab akibat dan tentu saja sesuai tema yaitu membuat orang tertawa.
Pada bagian kedua ini yang menghadirkan murid-murid layaknya sebuah kegiatan belajar mengajar di kelas terjadi, sekitar dua puluh lima murid duduk ditempatnya masing-masing kali ini bukan dibangku kelas, melainkan duduk bersila di lantai panggung pertunjukkan. Ibu guru yang sekaligus menjadi walikelas mengajar dikelas lengkap dengan adegan meng-absen satu persatu muridnya, menerangkan pelajaran, sampai pada adegan tebak-tebakan. Dari pelajaran Ilmu pengetahuan social, matematika hingga pelajaran bahasa daerah. Yang menjadi lucu dan membuat penoton tertawa adalah isian atau ajaran dari hal-hal yang diterangkan sengaja dipelesetkan jawaban-jawabannya atau memang jawaban tersebut menyimpang jauh dari pertanyaannya. Aktifitas tersebut sesaat berhenti karena bel istirahat berbunyi, mendadak music yang keras mengiringi keriangan dan keceriaan murid-murid.
Lagu group band masa kini seperti Cherry Belle dan lagu Coboy Junior, mengiringi adegan istirahat yang kemudian menjadi formasi yang apik dengan gerak2 keseharian anak2. Kita benar-benar bisa menangkap keriangan mereka sesaat melepas penat, keseriusan dan ketegangan di dalam kelas. Akan tetapi keceriaan itu mendadak berhenti karena bel tanda masuk kelas berdering, dan mendadak anak-anak itu masuk ke kelas kembali pada formasi duduk bersila sesaat kemudian bu guru masuk ke ruang kelas kembali. Proses belajar mengajar pun kembali dilakukan.
Adegan tersebut adalah realitas yang terjadi di sekolah dimanapun berada, sebuah aktifitas nyata yang diangkat di atas panggung. Danar nampaknya faham dan menggeluti betul apa yang dia lakukan sebagai seorang guru, dan nampaknya mencatat betul apa yang menjadi kebutuhan murid-muridnya yaitu keriangan dan keceriaan. Aktifitas di sekolah biasa hanya diisi hal-hal yang berkaitan dnegan pelajaran sekolah dan tentu saja prestasi yang ada di dalamnya. Pendekatan melalui kesenian berhasil dilakukan Danardono kepada sebagian murid-muridnya. Ini menjadi catatan penting buat saya, karena selama ini seniman-koreografer biasanya membuat karya tanpa mempertimbangkan esensi dan makna karyanya dan diperuntukkan untuk siapa, Danar menurut saya sudah melakukan dua hal tersebut; dia membuat karya seni melalui garapan tarinya tetapi sekaligus dia berhasil melakukan sebuah pendekatan budaya pada sebuah sekolah yang berbasis Islam dengan mengajak murid-muridnya belajar tari, teater dan kesenian yang lain. Bahkan mempresentasikannya ke public. Dan yang menjadi lebih penting adalah murid-murid pendukung karyanya yang mayoritas perempuan itu memakai hijab.
Konsep tertawa yang ditawarkan, anak-anak tertawa yang tiada batas. Tertawa sederhana yang menyehatkan, menurut riset Danar ketika seorang tertawa ada perubahan pada tubuh manusia tangan, kaki dan otot. Tertawa membantu melepaskan emosi dan ketegangan. Orang sering menyimpan emosi dari pada mengeluarkannya saat marah, takut, sedih, stress atau bosan. Tertawa merupakan cara lain untuk menemukan jalan keluar dari ketegangan. Dan kata Danar selama berates-ratus tahun telah diakui bahwa tertawa merupakan “mesin terbaik” . Pemecahan secara penelitian medis menunjukakan pengaruh keuntungan psikologi terhadap kesehatan. Rasa humor akan masuk dengan mudah mengobati rasa sakit, tekanan hidup sehari-hari, stress atau pekerjaaan dan seterusnya seperti yang dituliskan pada lembar katalognya.
Garapan ketiga adalah quartet, empat penari yang terdiri tiga penari cowok dan satu penari cewek dengan berkostum jas dan celana panjang resmi Nampak seperti pejabat. Dari gerak-gerak bos yang memerintahkan bawahannya, pekerja dan kolaborasi keempatnya menarik. Dan menjadi garapan penutup yang apik. Tapi sayang dari koreografer ketiganya tidak ada korelasi yang jelas, atau memang sengaja dipisahkan saya kurang tahu.
Yang terkesan tidak maksimal adalah garapan musiknya , mungkin karena proses recording dan editing dan tidak dikerjakan oleh orang yang professional jadi masih ada bagian-bagian yang terasa dipaksakan. Kemudian pengkayaan setting artistic yang seadanya dan tata lampu yang juga biasa saja. Artinya tidak ada unsur yang lebih didukung dari persoalan artistic dan tata cahaya serta property.
Hal yang menjadi kekurangan dan selalu yang menjadi problem dari teman-teman pengkarya di Solo (mungkin juga di Kota lain) adalah mereka hanya benar-benar memikirkan kerja artistiknya, soal garapan atau karyanya. Bagiamana karya itu berproses latihan berbulan-bulan dipersiapkan sedemikian rupa tapi di wilayah penonton, audiens tidak pernah ada yang memikirkan. Sementara diluar kebutuhan arstitik jarang yang berfikir dan mengerjakan. Jadi di satu sisi menjadi sebuah program, pementasan yang pada akhirnya sekedar lewat saja tanpa ada target-target yang jelas, misalnya dipersoalan audien atau penonton siapa yang bertugas mengundang penonton, menyebarkan publikasi, mengundang pers, beberapa jaringan terkait misalnya sekolah-sekolah, siapa yang menulis di Facebook, Twitters, mengirimkan sms dan sebagainya. Kemudian juga ada target yang jelas siapa yang akan menonton pertunjukkan ini ?
Sehingga tidak akan menjadi sayang kalau yang datang itu hanyalah orangtua murid dari yang mendukung pementasan ini, kerabat dan sedikit teman. Bagaimana bisa mengundang pers dan sangat mungkin hal semacam ini dijadikan kesempatan kerjasama dengan berbagai sekolah sehingga anak didik bisa ber-apresiasi dan hal ini sangatlah mudah dilakukan. Dan pasti akan membawa pengaruh yang baik dan jelas terhadap dunia tari dan teater ke depan. Pasti target dari sebuah tontonan adalah agar dapat di apresiasi sebanyak mungkin orang dan masyarakat.
Sudah saatnya Yayasan Kelola juga memberikan pantauan kerja terhadap seniman yang lolos hibah Yayasan kelola pada persoalan managemen terutama target dan pengelolaan penonton, karena yang terjadi hanya “jeruk makan jeruk” tontonan hanya di apresiasi oleh segelintir orang yang memang menjadi bagian dari pertunjukan tersebut. Padahal sangat mungkin dilakukan lebih, misalnya target-terget penyebaran publikasi kenapa rata-rata mepet dilakukan mendekati pementasan, tidak adanya kerjasama dengan media-pers, cetak ataupun elektronik misalnya bekerjasama dengan radio, Koran local, tv local dan sebagainya.
Kemudian alternatif tempat pentas mestinya ada juga pilihan-pilihan misalnya selain di Taman Budaya Solo, alangkah tepatnya justru pentas ini digelar di antar sekolah. Mungkin tidak harus memerlukan panggung atau stage yang layaknya sebuah pemanggungan, bisa di aula atau halaman sekolah pada sore hari dan seluruh murid dan bahkan sekolah lain bisa ikut berapresiasi. Atau mungkin ruang public lainnya.
Melakukan jumpa pers, ini juga hal yang masih sangat jarang dilakukan di kota Solo, konsentrasi hanya pada karya-nya, panggungnya, persoalan artistiknya. Sekali lagi akan sangat disayangkan kalau pertunjukan yang telah kita siapkan beberapa bulan hanya dinikmati oleh segelintir orang saja.
Sumber : Yayasan Kelola
Comments
Post a Comment
Tabe !