Dance Monolog "WHISPER ; Sepertiga Malam" (Trailler)

Ditampilkan pada
TALUART #13
di desa Kabobona, Dolo, Kab. Sigi





Kematian umumnya tergambar adalah raga yang sudah mati (tidak bernyawa lagi), namun rohnya masih bisa dikatakan ada. Namun, dalam pertunjukan ini kematian yang tergambar adalah secara rohaniah. Raga atau fisik manusia itu masih utuh, masih kuat, masih hidup tetapi elemen tubuhnya sebagian telah mati yaitu pikiran, akal, rasa, mata, telinga, mulutnya telah berada dalam tahap kematian. Kematian yang terkonsep secara kekinian. Kematian bukan hanya ada pada dirinya sendiri tapi melingkupi sekelilingnya, kematian pemerintahan, kematian nilai moral, kematian etika, kematian politik, kematian nasionalisme, kematian kebijakan, kematian keadilan, kematian sosial, kematian pendidikan, kematian kebudayaan bahkan kematian kesenian. 

Seorang aktor, dalam perenungan ia dihadapkan oleh pikiran-pikiran ke belakang dengan apa yang sudah ia jalani, ia lihat, ia dengar, ia rasakan. Ia ingin melakukan berbagai hal-hal yang ingin merubah kehidupan sebelumnya. Ia mengalami pergolakan batin terhadap konsep kematian. Bayang-bayang ketakutan, mimpi-mimpinya terhadap kemiskinan, problematika kehidupannya dan kehidupan masyarakat sekitarnya, menjadikan sebuah perlawan dalam psikologis dirinya. Mencoba melawan dirinya sendiri, melawan bisikan-bisikan yang akhirnya tanpa dia sadari menjadikannya sebagai manusia yang mati. Terbuka kembali kejadian-kejadian sebelumnya. Ia pun bertanya dari sekian orang-orang buruk di dunia ini kenapa harus ia yang didatangi oleh kematian? Bukannya orang-orang yang telah berbuat dzalim di negerinya. Rasa dihantui terus menggerogoti pikiran dan psikisnya. 

Comments