MENGEMBALIKAN POSISI TAMAN BUDAYA (Sebuah Tulisan dari Annayu Maharani - Koalisi Seni Indoensia)
Sumber : Koalisi Seni Indonesia
Taman Budaya dapat dikatakan sebagai infrastruktur kesenian yang tersedia merata di berbagai daerah di Indonesia. Pada beberapa daerah di Indonesia, Taman Budaya masih memegang peran sebagai ruang berkegiatan kesenian setempat. Hal ini berkaitan dengan perkembangan kesenian di beberapa kota yang memiliki satu ciri kesamaan, yakni di mana komunitas maupun lembaga seni di daerah tersebut belum memiliki modal ruang yang memadai. Kota Palu, Mataram, Kupang, serta Pontianak merupakan contoh kota dengan komunitas seni yang masih mengandalkan Taman Budaya untuk penyelenggaraan kegiatan mereka. Komunitas seni di sana bertumbuh dan menghasilkan berbagai kegiatan seni dan pemain baru; namun tidak diikuti dengan suplai infrastruktur yang memadai.
Di satu sisi, Taman Budaya menjadi satu-satunya pilihan penyelenggaraan kegiatan seni dengan segala kekurangannya; namun di sisi lain pilihan tersebut mengaktivasi ruang itu sendiri. Di kota Palu, Pontianak, dan Mataram Taman Budaya masih menjadi sentral kegiatan bagi sejumlah seniman. Taman Budaya Palu kerap dipakai untuk melangsungkan pameran, diskusi, FGD dan juga pentas kesenian lainnya. Kompleks Taman Budaya Pontianak dan Mataram juga cukup lengkap dengan teater terbuka di dalamnya. Di Pontianak, kegiatan seni lebih berpusat di teater terbuka dibandingkan di gedung utama karena lebih mudah diakses. Sedangkan di Mataram, titik yang menjadi tempat berkumpul seniman setempat adalah sebuah warung pojok di halaman Taman Budaya tersebut. Bisa dibilang, hanya Taman Budaya Kupang yang mempunyai program reguler dan dimanfaatkan cukup optimal. Taman Budaya di Kupang sampai sekarang membidani beberapa sanggar kesenian tradisional, khususnya seni tari. Sanggar-sanggar tersebut memanfaatkan Taman Budaya sebagai tempat latihan dan pertunjukan. Hal yang sama dilakukan oleh pihak lain seperti kampus, kelompok masyarakat, serta instansi yang mengadakan kegiatan di Taman Budaya Kupang.
Meskipun Taman Budaya di keempat kota tersebut bersinggungan dengan acara kesenian yang ada, namun sebenarnya banyak sekali kekurangan di segi kualitas gedung, Taman Budaya Palu sangat perlu direnovasi karena banyak sekali fasilitas yang sudah tidak layak, misalnya soal penyejuk udara, tata suara, sirkulasi udara, pencahayaan, tempat parkir, ruang terbuka hijau dan juga perbaikan kebersihan dan kamar mandi. Luas gedung juga perlu diperlebar untuk mengakomodasi kegiatan kesenian yang lebih banyak dalam waktu serentak. Masalah ini setidaknya mulai diatasi oleh seniman-seniman muda di Palu. Mereka menyediakan sendiri tempat berkesenian dalam bentuk open house (rumah yang digunakan sebagai ruang publik) ataupun di kafe dan restoran. Dari pernyataan mereka, alternatif ini muncul karena mereka tidak kenal pegawai Dinas setempat sehingga tidak tahu prosedur penggunaannya Taman Budaya.
Baru-baru ini, Taman Budaya Mataram sedang direnovasi dan kantor Dewan Kesenian NTB yang berada di Taman Budaya tersebut juga turut dibongkar. Imbasnya, tidak ada tempat sementara sebagai pengganti. Terlihat bahwa memang belum ada dialog yang baik antara pengambil kebijakan dengan pegiat kesenian. Komunitas seni di Kupang juga menawarkan alternatif sendiri. Komunitas sastra di Kupang misalnya, jarang menggunakan Taman Budaya untuk kegiatan mereka. Kegiatan seperti diskusi dan bedah buku oleh Komunitas Dusun Flobamora dan Rumah Poetica kerap berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Komunitas Filokalia berkegiatan di Universitas Widyamandira dan Uma Kreatif Inspiratif Mezra memanfaatkan rumah pribadi Mezra Pelandou, seorang tokoh kesenian setempat. Keengganan para komunitas sastra mengadakan kegiatan di Taman Budaya adalah karena faktor birokrasi. Alasan penyelenggaraan acara besar seperti Temu Sastrawan oleh Pusat Bahasa NTT diadakan di Taman Budaya karena tempat tersebut dianggap paling “resmi”. Sementara, Komunitas Dusun Flobamora lebih memilih taman umum bernama Taman Nostalgia sebagai tempat berkegiatan mereka. Dengan mengadakan diskusi buku di Taman Nostalgia, ketertarikan publik terhadap sastra bisa lebih terjangkau karena taman ini sering dimanfaatkan warga setempat.
Kekurangan di aspek manajemen juga terjadi. Jam operasional Taman Budaya mengikuti waktu kerja birokrasi seringkali menghambat kegiatan komunitas. Biaya sewa operasional untuk sebuah pertunjukan di Taman Budaya juga tidak sedikit, dan hal ini cukup sulit diusahakan oleh komunitas seni. Jikapun ada bantuan, pihak swasta lebih sering mengambil alih di dalam bantuan finansial. Ada opini yang mengatakan bahwa mengadakan kegiatan di Taman Budaya akan lebih gampang birokrasinya jika mengenal orang dalam. Selain itu, biaya sewa Taman Budaya juga sulit diusahakan komunitas. Masalah akses turut berpengaruh. Rencana pemerintah kota Pontianak terhadap pemindahan Taman Budaya, dari lokasi yang strategis di pusat kota ke daerah yang lebih pinggir, menjadi masalah yang sedang dihadapi komunitas seni di sana. Sistem yang tidak fleksibel dan kualitas gedung memang masih menjadi permasalahan utama. Jika dua hal tersebut diperbaiki, maka dapat kita bayangkan pemanfaatan yang lebih optimal oleh komunitas dan meningkatnya perkembangan seni lokal, atas infrastruktur yang memadai dan merata di daerah-daerah.
Comments
Post a Comment
Tabe !